Politik dan Arsitektur

Kaitan kebijakan Politik dalam Arsitektur terkadang jarang disadari

Artikel Arsitektur – Setiap kali saya log in ke Facebook, isi News Feed penuh sesak dijejali berita Politik. Trending Topik yang saya perhatikan tidak jauh dari kebijakan kebijakan pemerintah. Lebih didominasi dari kebijakan level Walikota sampai dengan Presiden. Tentu saja DPR juga penyumbang News Feed ranking atas.

“Saya yang awalnya tidak ambil pusing dengan itu semua, akhirnya ikut ‘tergelitik’ memberi komentar-komentar, bahkan membuat Status di Facebook tentang Politik.”

Tentunya ada yang ‘Like’ dan ada juga yang mengkritisi pandangan saya berkenaan dengan berita-berita Politik yang sedang hangat.

“What do you know about the relationship between architecture with Politics?”

Dengan adanya keritikan tersebut, saya introspeksi diri untuk tidak menyinggung ranah Politik. Kalaupun berkomentar, baiknya dipikirkan lebih matang lagi agar tidak menyinggung sebagian lainnya. Dan itu tidak mudah 😀

“In fact, Politics connection with architecture so closely even ‘Blended’.”

Mungkin bagi sebagian kita, masih banyak yang beranggapan, Politik tidak ada kaitannya dengan Arsitektur.

Baca juga >>> Polisi & Arsitektur

Padahal, kaitan Politik dengan Arsitektur sedemikian eratnya bahkan ‘Blended’.

“Hampir setiap kebijakan Politik dikeluarkan, maka akan ada dampak bagi dunia Arsotektur.”

Masih ingat sejarah bangsa Indonesia pada jaman kepemimpinan bapak Ir. Soekarno dengan Politik Mercusuarnya? Kebijakan arah Politik tersebut menghasilkan lingkungan-lingkungan binaan yang megah di Ibu Kota Jakarta. Diantaranya:

  • Senayan,
  • Monumen Nasional,
  • Masjid Istiqlal,
  • Gedung MPR DPR
  • Hotel Indonesia
  • Kawasan Bunderan HI
  • Semanggi

Masing-masing bangsa dan peradaban dunia memiliki kisah seperti ‘Politik Mercusuar’nya Indonesia, dengan muatan yang berbeda-beda.

“Each nation and civilization of the world have a story like ‘Political Mercusuar’ ever existed in Indonesia, with different payloads.”

Demikian eratnya dunia Politik dengan Arsitektur membuat banyak para tokoh yang mengeluarkan peryataan mereka, diantaranya:

  • Architecture is always political (Anna Ficek)
  • The problem is not to make political architecture,
    but to make architecture politically. (Roemer van Toorn)
  • A Cultural Political Economy of Architecture (Paul Jones)

  • Architecture as Political Practice (Markus Miessen)
  • etc
  • Eyal Weizman and Architecture as Political Intervention

“Are Politics Built Into Architecture?”

Jangankan level Nasional, coba kita perhatikan Level pemilihan kepala Desa, persaigan memperebutkan ‘kursi kepemimpinan’ diwarnai dengan maraknya aksi Politik dengan berbagai atribut kampanye menutupi keindahan lingkungan, dan ini banyak membuat ‘sakit mata’ penyuka keindahan Kota.  😀

Baca juga >>> Polisi & Arsitektur

Hal-hal seperti itulah salah satu yang melatar belakangi saya membuat kalimat profile saya di kolom Author arsdesain.com

Kita tidak harus menjadi Arsitek untuk ngobrol tentang Arsitektur. Karena arsitektur adalah keseharian hidup peradaban Manusia (Haries) Mari berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan melakukan Register di arsdesain.com.

Simak Komentar di >>> Linkedin.com

Salam Arsitektur

Sumber foto: google.com/image

Facebook Comments
Haries

Author: Haries

Arsitektur adalah keseharian hidup peradaban Manusia. Haries adalah founder situs arsdesain.com. Sebuah Situs yang menjadi sumber referensi bersama sepurtar arsitektur dan desain. "Mari register untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman."