Semiotika Kehadiran Arsitektur Jengki Di Indonesia

Argadranie – Arsitektur Jengki merupakan salah satu dari sekian gaya arsitektur yang cukup populer pada tahun 1950-an sampai tahun 1970-an di indonesia. Bentuk bangunan yang memiliki ciri khas, dan persebarannya yang cukup luas, membuat Langgam yang menjadi ciri khas dari gaya arsitektur ini, dapat dengan mudah dikenali.

Meski pada saat ini mulai sulit untuk menemukan bangunan yang memiliki ciri khas arsitektur jengki, masih ada beberapa bangunan yang mempertahankan, atau sejatinya memiliki elemen-elemen dari gaya arsitektur ini. 

Beberaparumah dengan langgam arsitektur jengki, masih dapat ditemui di Jalan Pakubowono, daerah Kebayoran baru, jakarta selatan.

Nama arsitektur Jengki dipopulerkan oleh Josef Prijatomo, melalui sebuah artikel dalam surabaya post pada tahun 1992. Masih Menurut josef (1996), Nama Jengki dapat di relasikan dengan popularitas nama “Jengki” pada tahun 1950-an di indonesia. Pada masa itu, celana jengki, sepeda jengki, dan Perabot Jengki, bila dilihat, masing-masing memiliki perberbedaan, atau bahkan menyimpang, dari apa yang ada atau dianggap konvensonal pada masa itu.

Senada dengan apa yang dikatakan sukada, Kecenderungan menyimpang itu pula yang dapat kita kaitkan, atau hubungkan sebagai alasan, kenapa gaya arsitektur ini dapat di korelasikan dengan nama Jengki.

Jengki berasal dari Yankee?

Masuknya celana jengki ke indonesia, diperkirakan berkat pengaruh masuknya budaya barat, terutama Rock and Roll dan Band the beatles yang pada masa itu sangatlah populer. Namun diadopsinya Istilah celana Jengki kedalam bahasa indonesia sendiri masih sangat samar, belum ada cukup banyak bahan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasinya.

Bila dikaji secara teoritis, Jengki dapat kita analisa dengan menggunakan Teori semiologi karya De Saussure. De saussure mengungkapkan, bahwa suatu tanda (dalam bahasa), hanya dapat terbentuk bila terdapat Signifier, hal yang dapat kita terima melalui panca indra, dan Signified makna yang kita interpretasi dari tanda tersebut. Signified sendiri dapat terbentuk atau berasal, dengan menggunakan Referant atau referensi seseorang berdasarkan pengalaman hidupnya. Bila kita implementasikan ke dalam bentuk diagram, maka Celana Jengki sebagai tanda dapat diidentifikasi sebagai berikut ini :

Celana Jengki Sebagai Tanda

Terlihat bahwa jengki sebagai tanda, memiliki pemaknaan atau konotasi yang negatif, karena memiliki referant sebelumnya yang memberikan kesan negatif terhadap pemaknaan Jengki.

Yang menjadi pertanyaan dari hal tersebut adalah, asal kata mana yang menjadi referant dari istilah Jengki? 

Terutamabila menyangkut dengan pengalaman apa yang digunakan sebagai Referant.

Menurut sukada (2004), jengki dapat di hubungkan dengan kata yankee, yang biasa digunakan sebagai konotasi untuk menyebut orang Amerika, dari asal negaranya, Kata Yankee digunakan untuk menyebut orang amerika yang tinggal di daerah selatan.

Bila dilihat dari asal katanya, Yankee sendiri memiliki beberapa kemungkinan asal bahasa, salah satunya adalah bahasa belanda, yaitu Janke. Disisi lain, bila melihat pengaruh budaya terhadap budaya indonesia, pada masa yang berdekatan, bangsa jepang juga memiliki konotasi negatif yang serupa dengan Jengki dan Yankee, yaitu Yanki, dimana istilah tersebut digunakan orang jepang untuk menyebut berandalan SMA.

Dalam buku Jurnalisme Sastrawi, terdapat tulisan berjudul “ngak-ngik-ngok” yang menceritakan tentang bagaimana kehidupan di indonesia pada tahun 1950-an.

Terlihat bagaimana maraknya budaya asing mulai diimplementasi kedalam kehidupan para pemuda yang tengah hidup di era pergolakan politik dan kebudayaan. Firman lubis dalam “Jakarta 1950-an : Kenangan Semasa Remaja”, turut memberi sumbangsi cerita tentang bagaimana Celana yang terinspirasi dari band The Beatles, disebut sebagai Celana Jengki oleh para tentara dan polisi, serta bagaimana razia yang dilakukakan terhadap mereka yang menggunakan celana dengan model tersebut.

Hal diatas memaparkan secara tidak langsung bagaimana jengki memiliki konotasi yang negatif di indonesia, dimana konotasi negatif kata Jengki atau Yankee pelan-pelan terbangun semenjak Presiden Soekarno melarang keberadaan dari kebudayaan Yankee (orang Amerika) di indonesia, bersamaan dengan pidatonya mengenai Manipol-Usdek, 17 Agustus 1959.

Arsitektur Jengki : Sebuah Penyimpangan

Melalui sebuah paper mengenai identifikasi tipologi arsitektur jengki, Kemas Ridwan (1998), yang mereferensi Budi A. Sukada, mengungkapkan bahwa Arsitektur dengan gaya Jengki, memiliki corak langgam yang menyimpang dari kaidah arsitektur yang normal pada tahun 1950-an sampai 1960-an.

Cukup masuk akal bila arsitektur Jengki direlasikan dengan nama “Jengki” itu sendiri, karena bila disandingkan dengan rumah-rumah lain pada masa tersebut, bentuk dan tipologi bangunan arsitektur jengki memang tidak biasa, sama halnya seperti celana, sepeda, dan perabot jengki. Sayangnya,penyimpangan ini tidak memiliki cukup sampel untuk digunakan sebagai perbandingan, sehingga tolak ukur penyimpangan tersebut masih terkesan kabur.

Bila kita lihat secara semiotik, maka perbandingan antara rumah yang dianggap normal pada masa itu dengan Rumah Arsitektur jengki, dapat terlihat seperti dibawah ini.

Rumah Jengki Sebagai Tanda
Konsep Paragdimatik Barthes Untuk Arsitektur

Diagram diatas merupakan model Semiologi Barthes dimana struktur penyusunan bangunan dianalogikan kedalam struktur bahasa. Terlihat bahwa ternyata, terdapat perbedaan yang signifikan dari Rumah Jengki terhadap rumah konvensional. Perbedaan mencolok terlihat jelas dari bagaimana fasad atau kulit luar bangunan mengalami pembentukan yang cukup “ekstrem”, meski secara garis besar, denah atau rencana bangunan sendiri masih memiliki dasar-dasar yang secara konvensional dapat dianggap normal.

Benar adanya bila arsitektur jengki memiliki pergesaran kaidah dari arsitektur yang normal pada masanya, bahkan bila mereferensi Kemas (1998), salah satu pelaku sejarah mengaku bahwa alasan kenapa ia merancang dengan gaya Jengki, adalah karena bangunan dengan model tersebut sedang populer, dan hal ini sangatlah berdekatan bila kita analogikan dengan alasan kenapa Celana Jengki banyak digunakan pemuda-pemudi pada masanya.

Facebook Comments