Struktur Bambu

Struktur Bambu

Tips Memilih dan Mengolah Bambu untuk Hunian Anda

Kemarin, saya dapat pertanyaan via BBM mengenai Arsitektur Tropis. Tepatnya mencari Literatur tentang kenyamanan thermal untuk proyek Sekolah Terpadu dengan konsep Tropis.

Sayangnya kumpulan artikel di arsdesain.com masih sangat terbatas dan belum ada pembahasan khusus mengenai kenyamanan thermal.

Semoga kedepannya arsdesain.com dapat benar-benar menjadi wadah untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar Arsitektur & Desain.

Saya beri masukan untuk riset Rumah-rumah peninggalan masa Kolonial di Indonesia. Kalau di Jakarta, saya rekomendasikan  Menteng.

Para Arsitek asal negri Kincir Angin pada saat mendesain proyek-proyek Arsitektur di Indonesia, sangat mengedepankan iklim setempat. (Iklim Tropis)

Baca Artikel ini: RUMAH MENTENG

Dan tentunya kita pelajari kearifan Arsitektur Tradisional dengan konsep rumah panggung dan Struktur Bambu  (Tahan gempa) dan dinding anyaman, yang menyejukkan ruangan.

Kesempatan pagi ini, arsdesain.com sharing artikel karya pak Anto Erawan mengenai BAMBU. 

Struktur Bambu memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan baja.

Karena kelenturan dan kekuatannya yang tinggi, struktur bambu juga merupakan bangunan tahan gempa.

Masalah utama Struktur Bambu adalah teknik sambungan.

Sungguh ironis, ketika ada kesan/citra rumah bambu dianggap kampungan dan primitif, bahkan banyakyang beranggapan bahwa rumah bambu hanya untuk masyarakat miskin.

Akibatnya penggunaan bambu mulai berkurang.

Ahli-ahli bambu tradisional yang mengerti cara menanam, menebang,dan mengawetkan bambu semakin jarang ditemukan, diikuti jumlah perajin bambu untuk bangunan menurun drastis.

Padahal di luar negri,  di Kanada, Swedia, Jepang, Cina, dan Amerika Selatan, konstruksi kayu dan Struktur bambu berkembang pesat menuju era yang belum pernah ada di negeri ini. Kita ini sangat tertinggal.

Penggunaan Struktur  bambu untuk  bangunan atau furniture pelengkap rumah masih jarang digunakan.

Bambu memiliki karakteristik yang kuat, bagus, serta murah, sehingga cocok dijadikan bahan baku untuk struktur bangunan atau furnitur.

Sebagai informasi, di dunia ini ada sekitar 1.250 jenis bambu, dan sebanyak 140 jenis (sekitar 11%) merupakan spesies asli Indonesia.

Jika Anda tertarik membuat bangunan atau furnitur dari bambu, ada baiknya Anda mengetahui cara memilih dan mengolah material bambu yang baik.

Berikut Tips Memilih dan Mengolah Bambu untuk Hunian Anda:

1. Bambu yang dipilih harus sudah matang (berusia 4 – 5 tahun). Dari segi fisik terlihat dari warna daun dan kelopak. Jika batang dipukul terdengar bunyi cukup nyaring yang menandakan bambu sudah tua dan kering.

2. Bambu yang matang bisa ditentukan menggunakan alat pengukur kepadatan batang (density test). Alatnya berupa jarum yang ditembakkan ke dalam batang bambu. Hasilnya cukup akurat, tetapi alatnya masih sangat mahal.

3. Bambu matang mempunyai kerapatan daging batang yang baik, sehingga tidak menyebabkan kisut jika sudah kering.

4. Setelah ditebang, sebaiknya bambu didiamkan beberapa hari di atas sebuah alas yang padat dengan posisi tegak, untuk menurunkan semua cairan yang terdapat dalam bambu. Alas ini berfungsi untuk mencegah kelembapan tanah masuk ke batang bambu.

5. Bambu yang sudah dipilih dibersihkan dari kotoran yang melekat pada permukaan batang.

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke:antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Facebook Comments
Info

Author: Info

Artikel dari berbagai sumber, bekerjasama dengan @AntoSeorang, @ngingims (rumah.com) dan Indo ArchitectsPlus. Mari berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan melakukan Register di arsdesain.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.