Organic Geometry

Muhammad Sagitha; Organic Geometry

Tidak ada perbaikan yang tak mungkin dilakukan, bahkan oleh arsitek muda sekalipun.

Bahkan yang mudalah yang semestinya menuliskan sejarah.

Generasi sebelumnya, ibarat kertas tulisnya.

Salah satu arsitek generasi muda Indonesia yang memberi harapan perbaikan adalah Muhammad Sagitha.

Bersama Wiyoga Nurdiansyah dan biro mereka SUB, Studio for visionary design, Jakarta, ia mulai menarik perhatian ketika memenangkan sayembara Terbatas Penataan Kawasan Stren Kali Surabaya pada tahun 2010 dengan menyisihkan arsitek-arsitek yang lebih senior.

Dalam sikap profesional Agit, seorang arsitek bukan pelayan bos yang telah “membeli” jasanya, arsitek adalah “penasehat” bagi client-nya.

Tetapi untuk bisa diterima, harus ada komunikasi yang jujur dan bagus.

Arsitek dan client lebih cenderung berkedudukan sebagai partner, menurutnya.

Prinsipnya: “Think, Do Something, Think Again”.

Untuknya, tak mengapa konsep untuk suatu projek yang diajukan pada client batal, sebab bisa dipakai untuk projek yang lain.

Jadi yang lebih penting adalah kreatifitas.

“Kreatifitas sulit keluar kalau kita terpaku pada rutinitas”, katanya.

Umumnya, para arsitek pemula pasti takut salah, desainnya monoton, atau membosankan.

Agit memberi jalan keluar untuk “mengolah kreatifitas” antara lain dengan membaca site.

Pada tapak berkontur suatu projek di Bogor misalnya, bentuk kotaknya mengikuti kontur.

Di samping itu, ia berupaya memenuhi ciri arsitektur tropis: melihat arah hadap matahari, memaksimalkan fungsi-fungsi ruang, dan lain-lain.

Mengambil gaya dan konsep arsitektur lokal untuk bentuk kini yang baru, itulah kontemporaritas Arsitektur Nusantara pada karya-karya Muhammad Sagitha.

Info

Penulis: Info

Menampilkan artikel yang masuk dari para pengguna arsdesain.com berupa : Info lowongan kerja, event, produk bahan bangunan dan lainnya

Leave a Reply